Tampilkan postingan dengan label Contoh Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh Makalah. Tampilkan semua postingan

Contoh Makalah Kebidanan

Contoh Makalah Kebidanan - Setelah sebelumnya saya menulis tentang berbagai contoh makalah, misalnya contoh makalah ekonomi dan makalah agama kali ini saya akan share contoh makalah kebidanan.

Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari keilmuan dan seni yang mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir dan balita, fungsi–fungsi reproduksi manusia serta memberikan bantuan/dukungan pada perempuan, keluarga dan komunitasnya

Contoh Makalah Kebidanan

Saya sudah menyertakan link download untuk contoh makalah kebidanan ini karena akan terlalu panjang apabila di tulis di sini, silahkan klik link download di bawah ini.
Contoh Makalah Kebidanan [download
Demikianlah tulisan singkat contoh makalah kebidanan untuk anda, saya harap dapat memberikan manfaat kepada anda yang membutuhkan, terima kasih. Contoh Makalah Kebidanan.
Read More » Contoh Makalah Kebidanan

Contoh Makalah Agama Islam

Contoh Makalah Agama Islam - Kali ini kita akan membahas mengenai contoh makalah agama islam, setelah sebelumnya telah ada contoh makalah seni budaya Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Contoh Makalah Agama Islam

Contoh Makalah Agama Islam
Contoh Makalah Agama Islam
Berikut ini adalah contoh makalah agama islam yang berjudul " Perkembangan Islam di Abad Modern" [Download]
Untuk saat ini mungkin hanya itu contoh maklah yang bisa saya share untuk kalian, saya harap bisa bermanfaat, baca juga contoh makalah yang lain di blog ini.
Read More » Contoh Makalah Agama Islam

Contoh Makalah Biologi SMA

Contoh Makalah Biologi SMA - Hari ini saya akan share lagi mengenai contoh makalah, dan yang akan di share hari ini adalah contoh makalah biologi yang akan saya berikan link downloadnya sebentar.

Pada contoh makalah biologi ini akan terdapat pembahasan mengenai pengertian sistim hormon, fungsi hormon sampai macam-macam kelenjar, nah langsung saja kalau begitu silahkan anda download filenya melalui link download di bawah gambar.

Contoh Makalah Biologi SMA

Contoh Makalah Biologi SMA
Contoh Makalah Biologi
Silahkan anda klik link berikut untuk download file Microsoft Word dari makalah biologi ini link download setelah itu anda bisa langsung mendownload filenya.
Demikian artikel contoh makalah biologi SMA ini saya tulis, mudah-mudahan memberikan manfaat bagi anda, baca juga artikel-artikel menarik maupun contoh makalah lainnya dari blog ini.
Read More » Contoh Makalah Biologi SMA

Contoh Makalah Olahraga

Contoh Makalah Olahraga - Kali ini saya akan memberikan contoh makalah olahraga untuk anda, jika saja anda mencari contoh makalah yang lain, sebelumnya sudah ada contoh makalah ekonomi, dan contoh makalah bahasa inggris.

Kegiatan olahraga memang tidak boleh lepas dari keseharian kita, olahraga akan banyak memberikan manfaat pada tubuh kita, baik meningkatkan kekebalan tubuh kita, juga akan menjaga agar tubuh kita selalu dalam keadaan bugar dan sehat sehingga kita tidak akan mudah terkena penyakit.

Contoh Makalah Olahraga

Contoh Makalah Olahraga
Contoh Makalah Olahraga
Nah berikut ini saya akan memberikan link download dari contoh makalah olahraga ini, karena kalau saya menulisnya langsung di blog ini akan memakan banyak tempat.
Contoh Makalah Olahraga [download]
Apabila anda sudah mendownload makalah olahraga di atas saya harap akan memberikan banyak manfaat kepada anda. Baca juga contoh makalah hukum di blog ini.
Read More » Contoh Makalah Olahraga

Contoh Makalah Teknologi Pendidikan

Contoh Makalah Teknologi Pendidikan - Hari ini kita akan membahas mengenai makalah lagi, setelah sebelumnya di blog ini saya memberikan contoh makalah ekonomi dan contoh makalah bahasa inggris, kali ini kita akan membahas contoh makalah teknologi pendidikan.

Pengertian Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan adalah kajian dan praktik untuk membantu proses belajar dan meningkatkan kinerja dengan membuat, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber teknologi yang memadai. Istilah teknologi pendidikan sering dihubungkan dengan teori belajar dan pembelajaran. Bila teori belajar dan pembelajaran mencakup proses dan sistem dalam belajar dan pembelajaran, teknologi pendidikan mencakup sistem lain yang digunakan dalam proses mengembangkan kemampuan manusia.

Contoh Makalah Teknologi Pendidikan

Contoh Makalah Teknologi Pendidikan
Contoh Makalah Teknologi Pendidikan
Berikut ini saya akan memberikan link download dari contoh makalah teknologi pendidikan tersebut, silahkan anda download dari link di bawah ini.
Contoh Makalah Teknologi Pendidikan [download]
Nah itulah tadi satu lagi contoh makalah yang kali ini saya bagikan untuk anda, baca juga contoh makalah kenakalan remaja di blog ini. saya harap contoh makalah teknologi pendidikan tadi bisa bermanfaat untuk anda.
Read More » Contoh Makalah Teknologi Pendidikan

Contoh Makalah Kenakalan Remaja

Contoh Makalah Kenakalan Remaja - Kenakalan remaja saat ini sudah menjadi hal yang sangat sering kita jumpai di kehidupan kita, mulai dari media yang sering memberitakan tentang kenakalan remaja sampai kita haus melihat sendiri kenakalan-kenakalan yang dilakukan remaja tersebut.

Pengertian Kenakalan Remaja:
Kenakalan remaja ialah sikap dan prilaku yang menyimpang dari aturan, peraturan sosial, adat, hukum dan agama. Oleh karena itu setiap tindakan remaja yang dianggap salah atau tidak pada tempatnya dapat dikatakan /dikualifikasikan sebagai kenakalan.

Contoh Makalah Kenakalan Remaja

Contoh Makalah Kenakalan Remaja
Contoh Makalah Kenakalan Remaja
Berhubung kalau seluruh isi makalah tersebut dituliskan disini akan terlalu memekan tempat maka, saya akan memberikan link download contoh makalah kenakalan remaja tersebut. Contoh Makalah Kenakalan Remaja [download] (silahkan anda klink download untuk mengunduh filenya)

Demikianlah postingan contoh makalah kenakalan remaja ini, baca juga contoh makalah hukum saya berharap dapat memberikan manfaat kepada anda yang membacanya, terima kasih.
Read More » Contoh Makalah Kenakalan Remaja

Contoh Makalah Koperasi

Contoh Makalah Koperasi - Setelah sebelumnya share tantang contoh makalah hukum dan contoh makalah ekonomi, kali ini saya akan share mangenai contoh makalah koperasi. koperasi adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.

Contoh Makalah Koperasi

Contoh Makalah Koperasi
Contoh Makalah Koperasi
Makalah koperasi berikut ini tidak akan saya tuliskan di potingan ini, namun saya akan memberikan link download kepada anda agar anda bisa mendownload contoh makalah koperasi ini.
Contoh Makalah Koperasi [download]
Nah demikianlah tulisan mengenai contoh makalah koperasi kali ini,apabila anda ingin melihat contoh makalah yang lain di blog ini misalnya makalah agama dll.
Read More » Contoh Makalah Koperasi

Contoh Makalah Hukum

Contoh Makalah Hukum - Berbicara mengenai hukum di Indonesia, kita pasti akan menemukan banyak kasus hukum yang tidak sepenuhnya tuntas di selesaikan oleh aparatur hukum di Indonesia, entah karena hukum di negara kita yang belum di tegakkan dengan baik atau karena hal lain.

Sebelumnya saya sudah posting contoh makalah bahasa inggris dan contoh judul tesis dan skripsi pendidikan kali ini saya kita akan melihat contoh makalah hukum.

Contoh Makalah Hukum

Contoh Makalah Hukum
Contoh Makalah Hukum
I. PENDAHULUAN

Ketika bicara hukum di Indonesia, barangkali masyarakat sudah bosan dan lelah menyaksikan paradoks-paradoks yang terjadi dalam kehidupan hukum di negeri ini. Sudah banyak issue-issue miring yang dialamatkan kepada aparat penegak hukum, baik itu polisi, jaksa maupun hakim. Sudah banyak tuduhan-tuduhan yang telah disuarakan oleh berbagai elemen masyarakat, tentang banyaknya para koruptor penjarah uang rakyat milyaran dan bahkan triyulnan rupiah dibebaskan oleh pengadilan. Dan kalaupun dihukum hanya sebanding dengan hukuman pencuri ayam. Dengan mata telanjang dapat disaksikan bahwa orang miskin akan sangat kesulitan mencari keadilan diruang pengadilan, sedangkan orang berduit akan begitu mudah mendapatkan keadilan. Bukan rahasia lagi, bahwa dalam proses peradilan perkara pidana bila ingin mendapat keringanan atau bahkan bebas dari jeratan hukum harus menyediakan uang, begitu juga para pihak dalam perkara perdata, bila ingin memenangkan perkara maka harus menyediakan sejumlah uang. Dengan kata lain bahwa putusan pengadilan dapat dibeli dengan uang, karena yang menjadi parameter untuk keringanan hukuman dalam perkara pidana dan menang kalahnya dalam perkara perdata lebih kepada pertimbangan berapa jumlah uang untuk itu daripada pertimbangan hukum yang bersandar pada keadilan dan kebenaran...
Untuk isi keseluruhan dari contoh makalah hukum di atas, silahkan download melalui link di bawah ini.
Contoh Makalah Hukum [download]

Nah demikianlah postingan mengenai contoh makalah hukum, saya harap dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya, terima kasih.
Read More » Contoh Makalah Hukum

Contoh Makalah Kesehatan

Contoh Makalah Kesehatan - Sebelumnya saya sudah menulis tentang contoh makalah PKn dan contoh makalah seni budaya, kali ini kita akan melihat contoh makalah kesehatan. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.

Contoh Makalah Kesehatan

Contoh Makalah Kesehatan
Contoh Makalah Kesehatan 1 [download] Contoh Makalah Kesehatan 3 [download]
Contoh Makalah Kesehatan 2 [download] Contoh Makalah Kesehatan 4 [download]
Nah itulah tadi beberapa contoh makalah kesehatan mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk anda.
Read More » Contoh Makalah Kesehatan

Contoh Makalah PKn

Contoh Makalah PKn - Baiklah hari ini kita kembali pada pembahasan mengenai contoh makalah, hari ini contoh makalah yang akan di bahas adalah contoh makalah PKn. Oh iya, sebelumnya ita telah di blog ini sudah ada contoh makalah seni budaya dan contoh makalah bahasa inggris.

Contoh Makalah PKn

Contoh Makalah PKn
Contoh Makalah PKn
Silahkan anda download contoh makalah PKn tersebut disini [download]
Nah itulah tadi contoh makalah PKn untuk anda, bisa di jadikan referensi untuk membuat makalah yang lain, baca juga contoh makalah agama islam di blog ini.
Read More » Contoh Makalah PKn

Contoh Makalah Seni Budaya

Contoh Makalah Seni Budaya - Setelah sebelumnya share tentang contoh makalah bahasa inggris dan contoh makalah sejarah, kali ini saya akan share contoh makalah seni budaya.

Pertama tama kita harus tau pengertian dari seni dan budaya itu sendiri, Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia, sehingga Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Contoh Makalah Seni Budaya

Contoh Makalah Seni Budaya
Contoh Makalah Seni Budaya
Berikut ini adalah beberapa contoh makalah seni budaya yang bisa anda download dan jadikan referensi dalam menulis makalah.
Menoleh Budaya Malu Masyarakat Jepang Untuk Lebih Mengenal Indonesia. | Download

Makalah Seni Budaya | Download

“Ngaben” Upacara Kematian Sebagai Salah Satu Atraksi Wisata Budaya Di Bali | Download
Nah itulah tadi beberapa contoh makalah seni budaya yang bisa saya share kali ini, baca juga contoh makalah ekonomi dan contoh makalah elektronika di blog ini.
Read More » Contoh Makalah Seni Budaya

Contoh Makalah Elektronika

Contoh Makalah Elektronika - Berikut ini akan saya berikan contoh makalah elektronika yang berisi tentang beragam informasi mengenai komponen-komponen dasar elektronika dan berbagai hal yang berkaitan dengan elektronika.
Contoh Makalah Elektronika
Contoh Makalah Elektronika

Contoh Makalah Tentang Elektronika

BAB I
PENDAHULUAN

        Elektronika adalah ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yangdioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel bermuatan listrik dalam suatu alat seperti komputer, peralatan elektronik, termokopel, semikonduktor,dan lain sebagainya. Ilmu yang mempelajari alat-alat seperti ini merupakan cabangdari ilmu fisika, sementara bentuk desain dan pembuatan sirkuit elektroniknya adalah bagian dari teknik elektro, teknik komputer, dan ilmu/teknik elektronika daninstrumentasi. Alat-alat yang menggunakan dasar kerja elektronika ini biasanya disebutsebagai peralatan elektronik (electronic devices). Contoh peralatan/ piranti elektronik ini: Tabung Sinar Katoda (Cathode Ray Tube, CRT), radio, TV, perekam kaset, perekam kaset video (VCR), perekam VCD, perekam DVD, kamera video, kameradigital, komputer pribadi desk-top, komputer Laptop, PDA (komputer saku), robot,smart card, dll

BAB II 
PEMBAHASAN
KOMPONEN ELEKTRONIKA

1. RESISTOR
         Resistor sama dengan tahanan atau penghambat, yang berarti adalah suatukomponen elektronik yang dapat menghambat gerak lajunya arus listrik.
         Resistor biasanya diberi huruf “R”, dengan satuan “Ohm”. Ditemukan olehseseorang yang bernama George Ohm berasal dari bangsa Jerman (1787-1854)sehingga sebagian namanya dipakai dalam pemberian satuan Resistor,
        Tahanan bagian dalam ini dinamai konduktansi. Satuan konduktansi ditulisdengan kebalikan dari Ohm yaitu mho. Hubungan antara hambatan, tegangan, danarus,dapat disimpulkan melalui hukum berikut ini, yang terkenal sebagai hukumOhm: R = V/I

Berdasarkan Penggunaannya resistor dibagi menjadi :

Resistor General / Biasa
Resistor ini bernilai tetap/konstant dan biasanya dibuat dari nikelin ataukarbon.

Resistor Variable
Resistor yang dapat berubah2 ukurannya sesuai dengan yang kita inginkan[Potensiometer dan Trimpot ].

Resistor NTC dan PTS, NTC
Resistor NTC dan PTS, NTC (Negative Temperature Coefficient), ialahResistor yang nilainya akan bertambah kecil bila terkena suhu panas. Sedangkan PTS(Positife Temperature Coefficient), ialah Resistor yang nilainya akan bertambah besar  bila temperaturnya menjadi dingin. LDR ( Light Dependent Resistor )LDR (Light Dependent Resistor), ialah jenis Resistor yang berubah hambatannyakarena pengaruh cahaya. Bila cahaya gelap nilai tahanannya semakin besar,sedangkan cahayanya terang nilainya menjadi semakin kecil.
Nah itulah tadi contoh makalah elektronika, untuk isi keseluruhan silahkan ikuti link berikut ini.
Read More » Contoh Makalah Elektronika

Contoh Makalah Sejarah

Contoh Makalah Sejarah - Untuk membuat sebuah makalah sejarah tentu saja kita haru menyiapkan sebuah konsep, Demikian pula ketika hendak menulis sebuah makalah, contoh makalah sejarah, kita harus memiliki konsep untuk menata tulisan tersebut agar lebih baik dan sistematis.

Contoh Makalah Sejarah

Contoh Makalah Sejarah
Contoh Makalah Sejarah
BAB I PENDAHULUAN

A. Alasan Memilih Judul

Yang menjadi alasan memilih judul dalam karya tulis yang berjudul “ Candi Borobudur “ ini adalah sebagai berikut:
1. Kita sebagai siswa yang masih banyak memerlukan pengetahuan yang perlu di ketahui
2. Sebagai siswa Supaya dapat menggali ilmu Pengetahuan lebih dalam dan mengembangkannya
3. Sebagai siswa tertarik kepada keindahan dan seni budaya bangunan Candi Borobudur
4. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Candi Borobudur

B. Batasan Masalah

Agar pembahasan sesuai dengan yang di inginkan penulis dapat tercapai dengan tepat dan benar maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Sejarah Candi Borobudur?

2. Apakah Arti Borobudur?
3. Benda – Benda Apa Saja Yang Ada Di Candi Borobudur?
4. Bagaimana Peranan Candi Borobudur Bagi Obyek Wisata?

C. Tujuan Yang Ingin Di Capai

Dengan di buatnya karya tulis ini, penulis mempunyai tujuan pokok yang ingin di capai adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menghayati sejarah berdirinya Candi Borobudur
2. Sebagai siswa harus tahu latar belakang di dirikannya Candi Borobudur
3. Untuk mengetahui makna dan arti yang terkandung dalam komplek bangunan Candi Borobudur
4. Mengetahui peranan Candi Borobudur sebagai objek Wisata

D. Sumber – Sumber Yang Di Gunakan

Sumber – Sumber bahasan yang di gunakan untuk pembuatan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1. Metode Deskriptif: yaitu Metode yang menggambarkan masalah yang ada pada masa sekarang
2. Metode Biografi: Yaitu metode dengan cara meneliti batu – batu majalah dan media lainya
3. Metode Observasi: yaitu penulis terjun langsung ke lapangan untuk penelitian agar mudah mendapat data – data
4. Dan informasi dari beberapa tokoh masyarakat di sekitar Candi Borobudur


BAB II
SEJARAH SINGKAT CANDI BOROBUDUR


A. Waktu Di Dirikan

Banyak buku – buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur akan tetapi kapan Candi Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.
Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah Indonesia pada umumnya dan juga sejrah yang berada di daerah jawa tengah paa khususnya periode antara abad ke – 8 dan pertengahan abad ke – 9 di terkenal dengan abad Emas Wangsa Syailendra kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi yang di lereng – lereng gunung kebanyakan berdiri khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran – dataran adaaalah khas bangunan Budha tapi ada juga sebagian khas Hindu
Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk menjungjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.

B. Penemuan Kembali

Borobudue yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggidi antara dataran rendah di sekelilingnya
Tidak akan pernah mamasuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur pernah mengalami kerusakan
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu yang cukup lama bahkan sampai berabad – abad bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada proses kehancuran. Kira – kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah, waktu yang singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit alam Candi Borobudur dengan batu – batu di bawah pemerintahan yang sangat terkenal yaitu SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800 – an dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahu 930 M pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke timur
Demikian karena terbengkalai tak terurus maka lama – lama di sana – sini tumbuh macam – macam tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada kira – kira abad ke – 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan.
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul dari kegelapan masa silam. Rafles adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M – 1816 M.
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi penghalang pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama Hartman, karen begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan pembersihan lebih lanjut, puing –puing yang masih menutupi candi di sigkirkan dan tanah yang menutupi lorong – lorong dari bangunan candi di singkirkan semua shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.

C. Penyelamatan I

Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali bangunan Candi Borobudur mula – mula hanya dilakukan secara kecil – kecilan serta pembuatan gambar – gambar dan photo – photo reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di adakan pada tahun 1907 M – 1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah untuk menghindari kerusakan – kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun pekerjaan Van Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan dari kerusakan yang lebih besar.
Mengenai gapura – gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah mengembalikan kejayaan masa silam, namun juga perlu di sadari bahwa tahun – tahun yang di lalui borobudur selama tersembunyi di semak – semak secara tidak langsung telah menutupi adan melindungi dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur, Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding – dinding dari bangunan itu tidak sangat membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah akan tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang lebih parah

D. Pemugaran Candi Borobudur

Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga – tenaga muda lulusan SMA dan SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu - batu Candi Borobudur sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu – batu yang sudah retak dan pecah, pekerjaan – pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan – bahan bangunan di tangani oleh kontraktor ( PT NIDYA KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE FILIPINE ).
Bagian – bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.

E. Bangunan Candi Borobudur

a. Uraian Banguan Candi Borobudur
Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3 bangunan Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak – undak dengan tangga naik pada ke – 4 sisinya ( Utara, selatan, Timur Dan Barat ) pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.
Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M
Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M
Pada sudut yang membelok 113 M
Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M
Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar undaknya.
Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam tiga bagian besar di antaranya :
1. Kamadhatu: Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat pada bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah yang melukiskan hukum sebab akibat.
2. Rupadhatu: Sama dengan alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah meninggalkan segala urusan keduniawian dan meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini terdapat pada lorong satu sampai lorong empat
3. Arupadhatu: Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian ini terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan III beserta Stupa Induk.
b. Patung
Di dalam bangunan Budha terdapat patung – patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung – relung : 432 Buah
Sedangkan pada teras – teras I, II, III berjumlah : 72 Buah
Jumlah : 504 Buah

Agar lebih jelas susunan – susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:
1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah : 504 Patung Budha
Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya adalah dalam sikap tangannyayang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patung sikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh karena macam mudra yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan Utara) pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5 kelima mudra it adalah Bhumispara – Mudra Wara – Mudra, Dhayana – Mudra, Abhaya – Mudra, Dharma Cakra – Mudra.
c. Patung Singa
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang juga menghadap ke barat seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.
d. Stupa
- Stupa Induk
Berukuran lebih besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling atas yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga trletak di garis Harmika.
- Stupa Berlubang / Terawang
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana di dalamnya terdapat patung Budha.
Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu
Teras I terdapat 32 Stupa
Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa
Jumlah 72 Stupa
- Stupa kecil
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.
e. Relief
Relief Karmawibhangga bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana bangunan aslinya karena alasan teknis maupun yang lainya maka candi di buatkan batu tambahan sebagai penutup
Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu berjumlah 160 buah pigura yang secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan juga hukuman yang di terima tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya.
Yang di perlihatkan pada relief – relief itu antara lain:
- Gambaran mengenai mulut – mulut yang usil orang yang suka mabuk – mabukan perbuatan – perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa.
- Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong Ziarah ke tempat suci bermurah hati kepada sesama dan lain – lain yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman hidup dan dapat pahala


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Dari semua masalah tentang sejarah brdirinya Candi Borobudur ini ternyata dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Sejarah Candi Borobudur

Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah dapat diketahui dengan pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.

2. Letak dan Lokasi Candi Borobudur Candi

Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan + 15 km sebelah selatan kota Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di kelilingi pegunungan, pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

3. Nama Dan Arti Candi Borobudur

Nama Borobudur berasal dari gabungan kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata Sangsekerta berarti “ Vihara” yang berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama ( Menurut Purwacaraka Dan Stuten Herm ) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di Atas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa ( Komplek Candi ) yang terletak di atas bukit

B. Saran – Saran

Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran diantaranya:
1. kita sebagai generasi muda harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2. Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita
3. penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

1. MoerTjipto, Drs Borobudur, Pawon Dan Mendut, Kanisus Yogyakarta 1993
2. Soediman, Drs Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia Gramedia Yogyakarta, 1980

Contoh Makalah Sejarah

Read More » Contoh Makalah Sejarah

Contoh Makalah Ekonomi

Contoh Makalah Ekonomi - Makalah yang membahas tentang perekonomian mungkin biasanya akan dibuat oleh pelajar maupun Mahasiswa yang mempelajari disiplin  ilmu Ekonomi, dalam membuat makalah ekonomi tersebut kadang kita menemukan kendala berupa referensi yang kurang maupun banyak hal lain, oleh karena itu maka saya akan memberikan kumpulan contoh makalah Ekonomi untuk di jadikan referensi dalam membuat makalah ekonomi tersebut.

Contoh Makalah Ekonomi

Contoh Makalah Ekonomi
Contoh Makalah Ekonomi
Perbedaan Tingkat Perjalanan Wisatawan Nusantara Berdasarkan Karakteristik Sosial Dan Ekonomi
Contoh Makalah Ekonomi [download]

Pengaruh Sektor Industri Terhadap Pembangunan Ekonomi
Contoh Makalah Ekonomi [download]

Mengkaji Ulang Hukum Sebagai Landasan Pembangunan Ekonomi
Contoh Makalah Ekonomi [download]

Analisis Kausalitas Antara Ekspor Dan Pertumbuhan Ekonomi Di Negara-Negara ASEAN
Contoh Makalah Ekonomi [download]
nah itulah tadi beberapa contoh makalah ekonomi yang bisa anda jadikan referensi maupun sebagai contoh dalam membuat makalah anda.
Read More » Contoh Makalah Ekonomi

Contoh Makalah Bahasa Inggris

Contoh Makalah - Berikut ini adalah contoh makalah bahasa Inggris yang mungkin dapat anda jadikan referensi dalam membuat makalah bahasa Inggris.

The Effects of a Supported Employment Program on Psychosocial Indicators

Abstract

This paper describes the psychosocial effects of a program of supported employment (SE) for persons with severe mental illness. The SE program involves extended individualized supported employment for clients through a Mobile Job Support Worker (MJSW) who maintains contact with the client after job placement and supports the client in a variety of ways. A 50% simple random sample was taken of all persons who entered the Thresholds Agency between 3/1/93 and 2/28/95 and who met study criteria. The resulting 484 cases were randomly assigned to either the SE condition (treatment group) or the usual protocol (control group) which consisted of life skills training and employment in an in-house sheltered workshop setting. All participants were measured at intake and at 3 months after beginning employment, on two measures of psychological functioning (the BPRS and GAS) and two measures of self esteem (RSE and ESE). Significant treatment effects were found on all four measures, but they were in the opposite direction from what was hypothesized. Instead of functioning better and having more self esteem, persons in SE had lower functioning levels and lower self esteem. The most likely explanation is that people who work in low-paying service jobs in real world settings generally do not like them and experience significant job stress, whether they have severe mental illness or not. The implications for theory in psychosocial rehabilitation are considered.


The Effects of a Supported Employment Program on Psychosocial Indicators for Persons with Severe Mental Illness
Over the past quarter century a shift has occurred from traditional institution-based models of care for persons with severe mental illness (SMI) to more individualized community-based treatments. Along with this, there has been a significant shift in thought about the potential for persons with SMI to be "rehabilitated" toward lifestyles that more closely approximate those of persons without such illness. A central issue is the ability of a person to hold a regular full-time job for a sustained period of time. There have been several attempts to develop novel and radical models for program interventions designed to assist persons with SMI to sustain full-time employment while living in the community. The most promising of these have emerged from the tradition of psychiatric rehabilitation with its emphases on individual consumer goal setting, skills training, job preparation and employment support (Cook, Jonikas and Solomon, 1992). These are relatively new and field evaluations are rare or have only recently been initiated (Cook and Razzano, 1992; Cook, 1992). Most of the early attempts to evaluate such programs have naturally focused almost exclusively on employment outcomes. However, theory suggests that sustained employment and living in the community may have important therapeutic benefits in addition to the obvious economic ones. To date, there have been no formal studies of the effects of psychiatric rehabilitation programs on key illness-related outcomes. To address this issue, this study seeks to examine the effects of a new program of supported employment on psychosocial outcomes for persons with SMI.
Over the past several decades, the theory of vocational rehabilitation has experienced two major stages of evolution. Original models of vocational rehabilitation were based on the idea of sheltered workshop employment. Clients were paid a piece rate and worked only with other individuals who were disabled. Sheltered workshops tended to be "end points" for persons with severe and profound mental retardation since few ever moved from sheltered to competitive employment (Woest, Klein & Atkins, 1986). Controlled studies of sheltered workshop performance of persons with mental illness suggested only minimal success (Griffiths, 1974) and other research indicated that persons with mental illness earned lower wages, presented more behavior problems, and showed poorer workshop attendance than workers with other disabilities (Whitehead, 1977; Ciardiello, 1981).
In the 1980s, a new model of services called Supported Employment (SE) was proposed as less expensive and more normalizing for persons undergoing rehabilitation (Wehman, 1985). The SE model emphasizes first locating a job in an integrated setting for minimum wage or above, and then placing the person on the job and providing the training and support services needed to remain employed (Wehman, 1985). Services such as individualized job development, one-on-one job coaching, advocacy with co-workers and employers, and "fading" support were found to be effective in maintaining employment for individuals with severe and profound mental retardation (Revell, Wehman & Arnold, 1984). The idea that this model could be generalized to persons with all types of severe disabilities, including severe mental illness, became commonly accepted (Chadsey-Rusch & Rusch, 1986).
One of the more notable SE programs was developed at Thresholds, the site for the present study, which created a new staff position called the mobile job support worker (MJSW) and removed the common six month time limit for many placements. MJSWs provide ongoing, mobile support and intervention at or near the work site, even for jobs with high degrees of independence (Cook & Hoffschmidt, 1993). Time limits for many placements were removed so that clients could stay on as permanent employees if they and their employers wished. The suspension of time limits on job placements, along with MJSW support, became the basis of SE services delivered at Thresholds.
There are two key psychosocial outcome constructs of interest in this study. The first is the overall psychological functioning of the person with SMI. This would include the specification of severity of cognitive and affective symptomotology as well as the overall level of psychological functioning. The second is the level of self-reported self esteem of the person. This was measured both generally and with specific reference to employment.
The key hypothesis of this study is:
HO: A program of supported employment will result in either no change or negative effects on psychological functioning and self esteem.
which will be tested against the alternative:
HA: A program of supported employment will lead to positive effects on psychological functioning and self esteem.


Method 
Sample
The population of interest for this study is all adults with SMI residing in the U.S. in the early 1990s. The population that is accessible to this study consists of all persons who were clients of the Thresholds Agency in Chicago, Illinois between the dates of March 1, 1993 and February 28, 1995 who met the following criteria: 1) a history of severe mental illness (e.g., either schizophrenia, severe depression or manic-depression); 2) a willingness to achieve paid employment; 3) their primary diagnosis must not include chronic alcoholism or hard drug use; and 4) they must be 18 years of age or older. The sampling frame was obtained from records of the agency. Because of the large number of clients who pass through the agency each year (e.g., approximately 500 who meet the criteria) a simple random sample of 50% was chosen for inclusion in the study. This resulted in a sample size of 484 persons over the two-year course of the study.
On average, study participants were 30 years old and high school graduates (average education level = 13 years). The majority of participants (70%) were male. Most had never married (85%), few (2%) were currently married, and the remainder had been formerly married (13%). Just over half (51%) are African American, with the remainder Caucasian (43%) or other minority groups (6%). In terms of illness history, the members in the sample averaged 4 prior psychiatric hospitalizations and spent a lifetime average of 9 months as patients in psychiatric hospitals. The primary diagnoses were schizophrenia (42%) and severe chronic depression (37%). Participants had spent an average of almost two and one-half years (29 months) at the longest job they ever held.
While the study sample cannot be considered representative of the original population of interest, generalizability was not a primary goal -- the major purpose of this study was to determine whether a specific SE program could work in an accessible context. Any effects of SE evident in this study can be generalized to urban psychiatric agencies that are similar to Thresholds, have a similar clientele, and implement a similar program.


Measures 
All but one of the measures used in this study are well-known instruments in the research literature on psychosocial functioning. All of the instruments were administered as part of a structured interview that an evaluation social worker had with study participants at regular intervals.
Two measures of psychological functioning were used. The Brief Psychiatric Rating Scale (BPRS)(Overall and Gorham, 1962) is an 18-item scale that measures perceived severity of symptoms ranging from "somatic concern" and "anxiety" to "depressive mood" and "disorientation." Ratings are given on a 0-to-6 Likert-type response scale where 0="not present" and 6="extremely severe" and the scale score is simply the sum of the 18 items. The Global Assessment Scale (GAS)(Endicott et al, 1976) is a single 1-to-100 rating on a scale where each ten-point increment has a detailed description of functioning (higher scores indicate better functioning). For instance, one would give a rating between 91-100 if the person showed "no symptoms, superior functioning..." and a value between 1-10 if the person "needs constant supervision..."
Two measures of self esteem were used. The first is the Rosenberg Self Esteem (RSE) Scale (Rosenberg, 1965), a 10-item scale rated on a 6-point response format where 1="strongly disagree" and 6="strongly agree" and there is no neutral point. The total score is simply the sum across the ten items, with five of the items being reversals. The second measure was developed explicitly for this study and was designed to measure the Employment Self Esteem (ESE) of a person with SMI. This is a 10-item scale that uses a 4-point response format where 1="strongly disagree" and 4="strongly agree" and there is no neutral point. The final ten items were selected from a pool of 97 original candidate items, based upon high item-total score correlations and a judgment of face validity by a panel of three psychologists. This instrument was deliberately kept simple -- a shorter response scale and no reversal items -- because of the difficulties associated with measuring a population with SMI. The entire instrument is provided in Appendix A.
All four of the measures evidenced strong reliability and validity. Internal consistency reliability estimates using Cronbach's alpha ranged from .76 for ESE to .88 for SE. Test-retest reliabilities were nearly as high, ranging from .72 for ESE to .83 for the BPRS. Convergent validity was evidenced by the correlations within construct. For the two psychological functioning scales the correlation was .68 while for the self esteem measures it was somewhat lower at .57. Discriminant validity was examined by looking at the cross-construct correlations which ranged from .18 (BPRS-ESE) to .41 (GAS-SE).


Design
A pretest-posttest two-group randomized experimental design was used in this study. In notational form, the design can be depicted as:
R O X O
R O O
where:
R = the groups were randomly assigned
O = the four measures (i.e., BPRS, GAS, RSE, and ESE)
X = supported employment
The comparison group received the standard Thresholds protocol which emphasized in-house training in life skills and employment in an in-house sheltered workshop. All participants were measured at intake (pretest) and at three months after intake (posttest).
This type of randomized experimental design is generally strong in internal validity. It rules out threats of history, maturation, testing, instrumentation, mortality and selection interactions. Its primary weaknesses are in the potential for treatment-related mortality (i.e., a type of selection-mortality) and for problems that result from the reactions of participants and administrators to knowledge of the varying experimental conditions. In this study, the drop-out rate was 4% (N=9) for the control group and 5% (N=13) in the treatment group. Because these rates are low and are approximately equal in each group, it is not plausible that there is differential mortality. There is a possibility that there were some deleterious effects due to participant knowledge of the other group's existence (e.g., compensatory rivalry, resentful demoralization). Staff were debriefed at several points throughout the study and were explicitly asked about such issues. There were no reports of any apparent negative feelings from the participants in this regard. Nor is it plausible that staff might have equalized conditions between the two groups. Staff were given extensive training and were monitored throughout the course of the study. Overall, this study can be considered strong with respect to internal validity.


Procedure
Between 3/1/93 and 2/28/95 each person admitted to Thresholds who met the study inclusion criteria was immediately assigned a random number that gave them a 50/50 chance of being selected into the study sample. For those selected, the purpose of the study was explained, including the nature of the two treatments, and the need for and use of random assignment. Participants were assured confidentiality and were given an opportunity to decline to participate in the study. Only 7 people (out of 491) refused to participate. At intake, each selected sample member was assigned a random number giving them a 50/50 chance of being assigned to either the Supported Employment condition or the standard in-agency sheltered workshop. In addition, all study participants were given the four measures at intake.
All participants spent the initial two weeks in the program in training and orientation. This consisted of life skill training (e.g., handling money, getting around, cooking and nutrition) and job preparation (employee roles, coping strategies). At the end of that period, each participant was assigned to a job site -- at the agency sheltered workshop for those in the control condition, and to an outside employer if in the Supported Employment group. Control participants were expected to work full-time at the sheltered workshop for a three-month period, at which point they were posttested and given an opportunity to obtain outside employment (either Supported Employment or not). The Supported Employment participants were each assigned a case worker -- called a Mobile Job Support Worker (MJSW) -- who met with the person at the job site two times per week for an hour each time. The MJSW could provide any support or assistance deemed necessary to help the person cope with job stress, including counseling or working beside the person for short periods of time. In addition, the MJSW was always accessible by cellular telephone, and could be called by the participant or the employer at any time. At the end of three months, each participant was post-tested and given the option of staying with their current job (with or without Supported Employment) or moving to the sheltered workshop.


Result
There were 484 participants in the final sample for this study, 242 in each treatment. There were 9 drop-outs from the control group and 13 from the treatment group, leaving a total of 233 and 229 in each group respectively from whom both pretest and posttest were obtained. Due to unexpected difficulties in coping with job stress, 19 Supported Employment participants had to be transferred into the sheltered workshop prior to the posttest. In all 19 cases, no one was transferred prior to week 6 of employment, and 15 were transferred after week 8. In all analyses, these cases were included with the Supported Employment group (intent-to-treat analysis) yielding treatment effect estimates that are likely to be conservative.
The major results for the four outcome measures are shown in Figure 1.
_______________________________________
Insert Figure 1 about here
_______________________________________
It is immediately apparent that in all four cases the null hypothesis has to be accepted -- contrary to expectations, Supported Employment cases did significantly worse on all four outcomes than did control participants.
The mean gains, standard deviations, sample sizes and t-values (t-test for differences in average gain) are shown for the four outcome measures in Table 1.
_______________________________________
Insert Table 1 about here
_______________________________________
The results in the table confirm the impressions in the figures. Note that all t-values are negative except for the BPRS where high scores indicate greater severity of illness. For all four outcomes, the t-values were statistically significant (p<.05).


Conclutions

The results of this study were clearly contrary to initial expectations. The alternative hypothesis suggested that SE participants would show improved psychological functioning and self esteem after three months of employment. Exactly the reverse happened -- SE participants showed significantly worse psychological functioning and self esteem.
There are two major possible explanations for this outcome pattern. First, it seems reasonable that there might be a delayed positive or "boomerang" effect of employment outside of a sheltered setting. SE cases may have to go through an initial difficult period of adjustment (longer than three months) before positive effects become apparent. This "you have to get worse before you get better" theory is commonly held in other treatment-contexts like drug addiction and alcoholism. But a second explanation seems more plausible -- that people working full-time jobs in real-world settings are almost certainly going to be under greater stress and experience more negative outcomes than those who work in the relatively safe confines of an in-agency sheltered workshop. Put more succinctly, the lesson here might very well be that work is hard. Sheltered workshops are generally very nurturing work environments where virtually all employees share similar illness histories and where expectations about productivity are relatively low. In contrast, getting a job at a local hamburger shop or as a shipping clerk puts the person in contact with co-workers who may not be sympathetic to their histories or forgiving with respect to low productivity. This second explanation seems even more plausible in the wake of informal debriefing sessions held as focus groups with the staff and selected research participants. It was clear in the discussion that SE persons experienced significantly higher job stress levels and more negative consequences. However, most of them also felt that the experience was a good one overall and that even their "normal" co-workers "hated their jobs" most of the time.
One lesson we might take from this study is that much of our contemporary theory in psychiatric rehabilitation is naive at best and, in some cases, may be seriously misleading. Theory led us to believe that outside work was a "good" thing that would naturally lead to "good" outcomes like increased psychological functioning and self esteem. But for most people (SMI or not) work is at best tolerable, especially for the types of low-paying service jobs available to study participants. While people with SMI may not function as well or have high self esteem, we should balance this with the desire they may have to "be like other people" including struggling with the vagaries of life and work that others struggle with.
Future research in this are needs to address the theoretical assumptions about employment outcomes for persons with SMI. It is especially important that attempts to replicate this study also try to measure how SE participants feel about the decision to work, even if traditional outcome indicators suffer. It may very well be that negative outcomes on traditional indicators can be associated with a "positive" impact for the participants and for the society as a whole.


References
Chadsey-Rusch, J. and Rusch, F.R. (1986). The ecology of the workplace. In J. Chadsey-Rusch, C. Haney-Maxwell, L. A. Phelps and F. R. Rusch (Eds.), School-to-Work Transition Issues and Models. (pp. 59-94), Champaign IL: Transition Institute at Illinois.
Ciardiello, J.A. (1981). Job placement success of schizophrenic clients in sheltered workshop programs. Vocational Evaluation and Work Adjustment Bulletin, 14, 125-128, 140.
Cook, J.A. (1992). Job ending among youth and adults with severe mental illness. Journal of Mental Health Administration, 19(2), 158-169.
Cook, J.A. & Hoffschmidt, S. (1993). Psychosocial rehabilitation programming: A comprehensive model for the 1990's. In R.W. Flexer and P. Solomon (Eds.), Social and Community Support for People with Severe Mental Disabilities: Service Integration in Rehabilitation and Mental Health. Andover, MA: Andover Publishing.
Cook, J.A., Jonikas, J., & Solomon, M. (1992). Models of vocational rehabilitation for youth and adults with severe mental illness. American Rehabilitation, 18, 3, 6-32.
Cook, J.A. & Razzano, L. (1992). Natural vocational supports for persons with severe mental illness: Thresholds Supported Competitive Employment Program, in L. Stein (ed.), New Directions for Mental Health Services, San Francisco: Jossey-Bass, 56, 23-41.
Endicott, J.R., Spitzer, J.L. Fleiss, J.L. and Cohen, J. (1976). The Global Assessment Scale: A procedure for measuring overall severity of psychiatric disturbance. Archives of General Psychiatry, 33, 766-771.
Griffiths, R.D. (1974). Rehabilitation of chronic psychotic patients. Psychological Medicine, 4, 316-325.
Overall, J. E. and Gorham, D. R. (1962). The Brief Psychiatric Rating Scale. Psychological Reports, 10, 799-812.
Rosenberg, M. (1965). Society and Adolescent Self Image. Princeton, NJ, Princeton University Press.
Wehman, P. (1985). Supported competitive employment for persons with severe disabilities. In P. McCarthy, J. Everson, S. Monn & M. Barcus (Eds.), School-to-Work Transition for Youth with Severe Disabilities, (pp. 167-182), Richmond VA: Virginia Commonwealth University.
Whitehead, C.W. (1977). Sheltered Workshop Study: A Nationwide Report on Sheltered Workshops and their Employment of Handicapped Individuals. (Workshop Survey, Volume 1), U.S. Department of Labor Service Publication. Washington, DC: U.S. Government Printing Office.
Woest, J., Klein, M. and Atkins, B.J. (1986). An overview of supported employment strategies. Journal of Rehabilitation Administration, 10(4), 130-135.

Nah demikianlah tadi contoh makalah dalam bahasa Inggris yang bisa saya berikan untuk kalian, saya harap bisa menjadi referensi dalam membuat makalah nantinya.
Read More » Contoh Makalah Bahasa Inggris

Contoh Makalah

Contoh Makalah - Membuat makalah sekarang sudah menjadi makanan harian buat pelajar kita, para siswa-siswa sering dibekali tugas membuat makalah oleh gurunya di akhir pekan, namun dalam membuat makalah ada beberapa aturan yang harus diikuti, sebelumnya saya sudah menulis artikel tentang Cara Membuat Makalah, karena banyak teman-teman yang minta diberikan contoh makalah makanya sekarang saya menulis artikel ini.

Contoh Makalah

Contoh Makalah
Contoh Makalah
Secara sederhana sistematika dalam pembuatan makalah adalah sebagai berikut :
1. Pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat.
2. Isi
3. Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran
Dalam penyusunan sebuah makalah ada banyak hal yang perlu diperhatikan, mulai dari kata-kata yang digunakan, besar kecilnya font sampai ukuran kertas semua ada aturannya, sebagai contoh dibawah ini saya akan memberikan link download beberapa contoh makalah tersebut:

contoh makalah managemen [link]
contoh makalah Sosiologi [link]
contoh makalah Bahasa Indonesia [link]

Itulah tadi beberapa contoh makalah yang saya dapatkan dari berbagai sumber, saya harap bisa menjadi bahan pembelajaran bagi yang belum mengetahuinya, mudah-mudahan bisa membantu.

Contoh Makalah

Read More » Contoh Makalah